Kamis, 09 April 2015

RASULULLAH SEBAGAI USWATUN HASANAH DALAM SEGALA ASPEK KEHIDUPAN

RASULULLAH SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH
DALAM SEGALA ASPEK KEHIDUPAN
(Muhammad Rosid Ridho,S.Pd.I)




PENDAHULUAN

            Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami bencana yang begitu besar, yaitu bencana runtuhnya keteladanan para pemimpin. Sulit kiranya untuk mendapatkan pemimpin yang visioner, kompeten dan memiliki integritas yang tinggi. Pada umumnya mereka yang duduk di jabatan kepemimpinan saat ini lebih karena faktor politik semata dan berorientasi pada kepentingan pribadi dan golongan. Perilaku seperti ini mengakibatkan terabaikannya nilai-nilai keteladanan yang semestinya selalu melekat pada setiap gerak dan langkah seorang pemimpin.
            Krisis keteladanan dari para pemimpin ini berdampak pada merosotnya moralitas masyarakat Indonesia sebab pada umumnya sikap dan perilaku setiap individu sangat dipengaruhi oleh perilaku para pemimpin dan figur idola yang mereka lihat sehari-hari. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, persoalan moral di Indonesia menempati posisi yang sangat memprihatinkan. Mungkin Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia,  yang mana anak usia SD dapat dengan mudahnya mendapatkan majalah, tabloid dan VCD  porno di lampu-lampu merah dan di kios-kios pedagang kaki lima. Negara yang paling liberal sekalipun seperti Amerikat Serikat, Inggris  Jerman dan Australia mensyaratkan usia 18 atau 21 tahun untuk memiliki barang haram tersebut dengan menunjukkan KTP atau SIM. Demikian juga dengan pembelian rokok, mereka mensyaratkan dengan ketentuan yang sama (Antonio, 2007). Kemrosotan moral di Indonesia juga terlihat pada banyaknya kasus narkoba yang terungkap bahwa sebagian aparat penegak hukum juga ikut bermain sebagai backing ataupun sebagai pemakai dan distributor.
            Pada masalah tindak kejahatan korupsi, kebocoran anggaran negara  lebih parah dibandingkan pada  masa orde baru. Jika dahulu korupsi terkonsentrasi di pemerintah pusat, maka sekarang korupsi dilakukan secara berjama’ah dan massal di semua lapisan birokrasi. Sebagai contoh, lahirnya sistem Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang lebih di tingkat pemerintah daerah baik dalam segi anggaran maupun pelaksanaan belum dapat dipahami dan dilaksanakan dengan baik bahkan semakin salah arah dan sengaja diselewengkan. Hal ini membuka pintu lebar terhadap munculnya praktik korupsi secara massif di tingkat daerah.
            Praktik korupsi di tingkat daerah juga disebabkan karena sistem pemilihan Kepala Daerah disikapi dengan budaya yang tidak baik oleh para pemilih dan yang dipilih, yaitu berorientasi pada uang (money oriented). Sebagai contoh untuk menjadi seorang kepala daerah (gubernur, bupati atau walikota) di Pulau Jawa atau di daerah-daerah tertentu di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, pada tahun 2004 dibutuhkan biaya kampanye minimal 7 sampai dengan 15 Milyar Rupiah. Modal sebesar itu biasanya didapatkan dengan cara meminjam kepada beberapa pengusaha atau diberikan oleh sponsor /perusahaan dengan syarat ketika nanti berhasil menjabat, perusahaan tersebut diberikan beberapa tender dari proyek pemerintah walaupun dengan nominal yang sangat tidak menguntungkan bagi pemerintah. Maka ketika Kepala Daerah terpilih telah dilantik, dia harus segera melunasi hutang –hutangnya kepada para pemberi modal. Hutang-hutang ini tidak mungkin  lunas jika hanya dibayar dengan gaji strukturalnya karena take-home payment resmi para pejabat waktu itu tidak lebih dari 15 s/d 20 juta per bulan. Jika ditambah dengan berbagai tunjangan resminya mungkin mencapai 50 s/d 100 juta per bulan. Pendapatan ini jika dijumlahkan selama 5 tahun sesuai masa jabatannya berarti 100 juta x 60 bulan sama dengan 6 Milyar Rupiah. Lantas dari mana dia akan melunasi hutangnya dan mencukupi kebutuhan hidup keluarganya? Jawabnya dengan menitipkan presentasi tertentu dari APBD ke kontraktor. Sehingga jika kontraktor ingin menang tender, mereka harus menyerahkan 5, 10 hingga 20 persen dari anggaran proyek kepada Kepala Daerah setelah kontraktor dinyatakan menang tender. Tambahan penghasilan tidak halal lainnya juga bisa di dapatkan dari perijinan perusahaan-perusahaan di wilayahnya (Antonio, 2007).
            Para pejabat yang lebih mengedepankan pola pikir pragmatis dan materialis menguatkan misi Amerika dalam membangun isu globalisasi melalui TTO, World Bank, dan IMF. Lembaga-lembaga bentukan dominasi otoritas Amerika itu ditawarkan seolah-olah sebagai solusi keterpurukan kondisi ekonomi negara berkembang namun pada kenyataannya adalah demi keuntungan mereka sendiri dalam rangka menguatkan posisi sebagai negara adidaya. Indonesia semakin tidak memiliki kemandirian dalam hal ekonomi (Rais, 2008).
            Kondisi seperti ini jika dibiarkan berlarut-larut maka cepat atau lambat bangsa Indonesia akan menuju kepada kehancuran. Perlu adanya pemikiran dan aksi nyata untuk menghidupkan kembali para pemimpin yang mampu memberikan keteladanan dan perubahan bagi bangsa yang sudah kronis ini. Pemimpin yang mampu mengejowantahkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dengan sifat sidiq, amanah, fatonah dan tablig nya.
            Rasulullah SAW bersabda “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”. Artinya seorang presiden adalah pemimpin bagi sebuah negara, seorang kepala daerah adalah pemimpin bagi masyarakat di daerahnya, seorang guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya, seorang ayah adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya, seorang istri adalah pemimpin bagi anak-anak dan orang-orang menjadi tanggungannya, begitu juga seorang kakak adalah pemimpin bagi adik-adiknya. Untuk itu marilah, setiap individu yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya hendakya berusaha untuk memberikan keteladanan kepada anggota yang dipimpinnya sesuai dengan uswatun hasanah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai aspek kehidupan.
            Meneladani pribadi Rasulullah SAW adalah sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada setiap pribadi muslim.  Allah berfirman dalam QS.An-Nisa’: 59 :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqߧ9$# Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrŠãsù n<Î) «!$# ÉAqߧ9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ  
Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Allah juga berfirman di dalam QS. Al Ahzab : 21 :
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. .
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Berangkat dari pemahaman tersebut, maka melalui makalah ini akan saya sampaikan tentang kesempurnaan pribadi Rasulullah SAW dan keteladanan Rasulullah SAW dalam memimpin umat.


PEMBAHASAN

A.      KESEMPURNAAN PRIBADI RASULULLAH SAW
           
            Mahammad SAW dikenal sebagai seorang yang sangat tinggi kemuliaan akhlaknya. Pengakuan tersebut datang dari masyarakat yang telah mengenal beliau sejak kecil sehingga di usia remaja beliau telah menyandang gelar Al Amin (orang yang terpercaya). Bahkan Allah juga memujinya dengan ungkapan:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ  
“ Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS.Al Qalam: 4)
                Rasulullah SAW pernah mengalami berbagai keadaan dalam hidupnya. Beliau pernah mengalami hidup susah, ketika beliau harus tumbuh berkembang menjadi dewasa tanpa didampingi oleh kedua orangtuanya dan diasuh oleh pamannya yang kehidupannya sangat sederhana. Kondisi tersebut telah mendidik beliau menjadi anak yang mandiri, disiplin, sederhana dan bertanggung jawab. Dengan demikian dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang sedang mengalami kesulitan  di dalam kehidupannya. Beliau pernah menjadi orang kaya . kekayaan beliau didapatkan dan dipergunakan dengan cara yang halal dan mulia . sehingga kekayaan tersebut tidak membuat beliau menjadi sombong, sebaliknya beliau tetap hidup sederhana, dan bersahaja serta tidak membeda-bedakan antara si kaya dan si miskin. Hal ini dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang diberi kekayaan banyak agar mereka tetap bersabar dengan kekayaannya. Beliau pernah menjadi pemimpin dalam berbagai bidang sehingga kita dapat meneladani kepemimpinannya.
            Kemuliaan akhlak Rasulullah SAW tidak berhenti pada masanya saja. Bahkan setelah 16 abad berlalu kemuliaan itu masih tetap diakui oleh umat manusia yang mempelajari sejarah perjalanan hidup beliau. Prof K.S Ramakhrisna (1989), seorang ahli filsafat di India dalam bukunya Muhammad the Prophet of Islam  memberi komentar demikian: 
..ia tidak belajar ilmu filsafat di sekolah Athena atau Roma, Persia, Cina dan India. Tetapi ia dapat memproklamirkan kebenaran yang tertinggi dari nilai abadi kepada umat manusia. Dirinya buta aksara tetapi beliau dapat berbicara dengan kefasihan lidah dan kegairahan untuk menggerakkan manusia menangis dalam kegembiraan. Dilahirkan sebagai anak yatim dan diberkati tanpa harta benda duniawi, beliau dicintai semua orang. Beliau tidak belajar di akademi militer, tetapi beliau dapat menyusun pasukannya melawan rintangan yang tak seimbang dan memperoleh kemenangan-kemenangan melalui kekuatan moral yang beliau susun. Manusia berbakat dengan kejeniusan retorik memang jarang. Termasuk Descartes, memasukkan Muhammad sebagai orator yang sempurna di antara orator-orator yang jarang di dunia.
            Nilai keteladanan beliau dalam kepemimpinan dan manajemen yang beliau wariskan masih sangat relevan untuk digunakan oleh para pemimpin masa kini baik kepemimpinan dalam lingkup terkecil seperti kepemimpinan untuk diri sendiri maupun kepemimpinan dalam bidang rumah tangga, bisnis, sosial, politik, pendidikan, hukum, militer dan pemerintahan. Hal ini karena keluhuran budi dan kecerdasannya telah beliau terapkan dalam setiap jejak langkahnya sehingga meraih kesuksesan dalam segala bidang. M.H.Hart, dalam bukunya yang berjudul The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History mengatakan: “pilihanku untuk menempatkan Muhammad pada urutan pertama dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia mungkin akan mengejutkan sebagian pembaca dan mengundang berbagai pertanyaan, tetapi sejarah telah mencatat bahwa dia adalah satu-satunya manusia yang memiliki kesuksesan luar biasa, baik pada bidang keagamaan maupun bidang non keagamaan”.

B.       USWATUN HASANAH RASULULLAH SAW DALAM MEMIMPIN UMAT.
            Dalam makalah ini kami batasi hanya membahas tentang uswatun khasanah Rasulullah SAW dalam membangun bisnis dan wirausaha, membina keharmonisan keluarga, dan dalam membangun masyarakat yang madani.                                                                                      
1.      Uswatun Hasanah Rasulullah SAW dalam Mengembangkan Bisnis dan Wirausaha
       Rasulullah SAW adalah pelaku bisnis yang sukses di masa mudanya. Beliau mulai mengenal dunia perdagangan pada usia 12 tahun dengan cara magang untuk berdagang bersama pamannya yaitu Abu Thalib. Beliau di usia 17 tahun mulai merintis untuk menjalankan bisnisnya sendiri di kota Mekah dengan cara membeli barang kemudian menjualnya kembali kepada orang lain.
       Ketika awal beliau menjalankan bisnis secara mandiri, beliau sangat fokus untuk mencari investor yang bisa diajak bekerja sama dalam hal pemberian modal. Dengan sifat jujur dan kerja keras beliau banyak para investor yang ingin bekerja sama dengan beliau. Termasuk para janda kaya dan anak-anak yatim yang tidak mampu menjalankan bisnis sendiri dengan modal yang dimilikinya.
       Ketika beliau menikah dengan Siti Khatijah dan terus mengelola perdagangannya, maka karir beliau terus melejit. Pada waktu menginjak usia 30-an beliau menjadi investor dan mulai banyak waktu untuk memikirkan kondisi masyarakat. Pada saat itu beliau sudah mencapai apa yang diistilahkan oleh Robert Kiyosaky sebagai kebebasan uang (financial freedom) dan waktu (Antonio, 2007). Profesi pedagang itu terus digeluti dan di kembangkan oleh Rasululllah SAW hingga kira-kira usia 37 tahun menjelang beliau diangkat menjadi nabi.
       Prinsip-prinsip Rasulullah SAW yang telah membuat dirinya sukses dalam menjalankan bisnis perdagangan antara lain:
a.       Uang bukan modal utama dalam berbisnis, namun yang paling penting adalah usaha membangun kepercayaan sehingga beliau dikenal memiliki gelar Al Amin. “Money is not number one capital in business, the number one capital is trust” . Beliau menghindari praktek-praktek kecurangan dalam jual beli seperti mengurangi timbangan, menyembunyikan cacat barang dagangan, berbohong dan lain-lain.
b.      Kompetensi dan kemampuan teknis yang terkait dengan usaha harus dimiliki dan terus diasah. Beliau mengenal betul seluk beluk perdagangan dan perekonomian. Beliau mengetahui keuntungan jual beli yang sehat dan bahaya riba. Sehingga beliau menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
c.       Memiliki kemandirian dalam berdagang atau jiwa wirausaha. Setelah mendapatkan pengalaman berdagang yang cukup beliau mencoba membangun usaha dagang sendiri bahkan membuka lapangan pekerjaan bagi oarang lain.

2.      Uswatun Hasanah Rasulullah SAW dalam Membina Keluarga
     Kesuksesan seseorang dalam membina keluarga yang harmonis  adalah salah satu kriteria kesuksesan seseorang. Banyak para pemimpin yang sukses dalam berkarir namun rumah tangganya kandas di tengah jalan. Mereka sukses membangun perusahaan, namun gagal dalam membangun keluarga. Mereka sibuk dengan upaya peningkatan SDM bagi karyawan, namun melupakan pemberian perhatian kepada anak-anaknya sehingga anak-anak salah dalam bergaul dan terjerumus ke dalam pemakaian narkoba.
    
     Rasulullah SAW adalah seorang yang memiliki kesibukan luar  biasa. Seperti tugas beliau sebagai rasul untuk menerima dan mengajarkan ribuan ayat yang diturunkan kepadanya, sebagai komandan perang yang telah memimpin 19 kali perang besar dan 53 ekspedisi militer, tugas sebagai qadhi yang memutuskan semua perkara syariah umatnya, sebagai imam salat setiap waktu di masjid Nabawi, sementara baginya salat tahajud adalah wajib. Namun kesibukan Rasulullah tidak membuat perhatian kepada keluarga terabaikan. Beliau tetap menyempatkan untuk membina keharmonisan di dalam keluarga. Keharmonisan tersebut dapat terlihat dalam peran beliau ketika menjadi suami bagi istri, ayah bagi anak-anaknya, mertua bagi menantu-menatunya dan kakek bagi cucu-cucunya.
a.       Sebagai seorang suami beliau sangat menghargai dan mencintai istrinya.
Rasulullah SAW adalah teladan yang baik dalam membina keluarga dilakukan dengan penuh rasa cinta karena Allah SWT. Kecintaan Rasulullah SAW kepada istri sudah terlihat pada awal pernikahannya dengan Siti Khatijah.  Ketika menikah dengannya beliau memberikan  mas kawin 20 onta muda dan 125 gram emas yang bersumber dari hartanya sendiri. Mas kawin sebesar itu jika disesuaikan dengan harga sekarang barangkali lebih dari 500 juta rupiah.
Selama 25 tahun beliau hanya beristrikan Siti Khatijah. Yaitu selama 15 tahun sebelum kenabian dan 10 tahun sesudah kenabian. Rasulullah SAW baru berpoligami setalah Siti Khatijah tiada dan mendapat petunjuk dari Allah untuk menikah dengan beberapa orang dalam rangka mendukung dakwah dan penyelamatan aqidah. Waktu itu beliau telah berusia 50-an tahun. Hal ini sekaligus menampik tudingan bahwa Rasulullah SAW menikah karena hawa nafsu. Jika Rasulullah SAW menikah karena hawa nafsu tentunya beliau sudah berpoligami dengan gadis-gadis cantik di usia mudanya.
Keharmonisan keluarga Rasulullah SAW juga disebabkan karena beliau memperlakukan istri dengan baik. Kebaikan beliau antara lain sebagai-berikut:
1)      Membantu istrinya ketika hendak naik kendaraan.
2)      Mencium istri sebelum bepergian
3)      Makan sepiring berdua
4)      Berlemah lembut dan menemani istri yang sakit
5)      Bersenda gurau membangun keakraban
6)      Tetap romantis dan mesra walaupun istri sedang haid
7)      Mandi bersama
8)      Saling membersihkan setelah berhubungan
9)      Bersandar di atas dada istri dan tidur di atas pahanya
10)  Suami istri berpelukan di saat tidur
11)  Mengajak istri bepergian keluar kota.
12)  Mengajak istri jalan-jalan di malam hari
13)  Mengajak istri makan di luar
14)  Menyuapi istrinya
15)  Mencium istri dari waktu ke waktu
16)  Mengantar istri ketika keluar
17)  Memanggil istri dengan panggilan sayang
18)  Mengajak olah raga
19)  Memberikan sesuatu yang disenangi istri
20)  Memperhatikan perasaan istri
b.      Sebagai seorang ayah beliau sangat menyayang anak-anaknya. Sebagai contoh ketika hendak perang Badar, Rasulullah SAW berpesan kepada Usman bin Affan untuk tidak ikut berperang namun agar menjaga istrinya, ruqayyah, yaitu putri beliau yang sedang sakit. Tak lama kemudian ruqayyah meninggal. Setiba kembali dari perang Badar, pertama kali yang dilakukan Rasulullah SAW adalah mendatangi tempat dikuburkannya ruqayyah ditemani oleh putri bungsu beliau yaitu Fathimah.
c.       Sebagai mertua Rasulullah SAW juga sangat peduli dengan menantu-menantunya. Misalkan ketika Ruqayyah telah tiada Usman bin Affan diminta untuk menikah dengan adiknya Ruqayyah, yaitu Ummu Kulsum.
d.      Sebagai kakek Rasulullah SAW begitu sayang terhadap cucu-cucunya. Misalkan beberapa kali Rasulullah SAW membawa kedua cucunya ke masjid dengan menggendongnya di atas bahu. Rasulullah SAW membiarkan tetap dalam gendongannya walaupun dalam keadaan salat.

3.      Uswatun Hasanah Rasulullah SAW dalam Memimpin Negara
     Menurut para sejarawan, sejarah awal perkembangan Islam dibagi menjadi dua periode yaitu periode mekah dan periode madinah. Pada periode mekah ajaran Islam difokuskan pada tahapan penanaman aqidah dan akhlak mulia dengan kekuatan dakwah yang masih sangat minim karena umat muslim merupakan kaum minoritas yang tertindas oleh orang kafir Quraisy. Rasulullah SAW tidak memiliki otoritas di mekah sehingga perkembangan Islam pun sangat lambat. Setelah beliau dan muslimin mekah hijrah ke madinah pada tahun 13 kenabian, barulah Islam berkembang dengan pesat.
     Di Madinah Rasulullah SAW menyusun kekuatan umat Islam dengan cara mempersaudarankan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Dengan adanya hubungan persaudaraan tersebut umat Islam tidak membeda-bedakan antar pendatang atau pribumi dan terjalin kerjasama yang harmonis. Kaum muhajirin dibantu oleh kaum Anshar dengan tempat tinggal dan modal usaha, sedangkan kaum Anshar terbantu dalam pemasaran hasil pertanian mereka. Kaum muhajirin rata-rata adalah seorang pedagang sedangkan kaum Anshar rata-rata adalah seorang petani. Dengan bersatunya ahli produksi dan ahli marketing maka mereka saling memberikan penguatan ekonomi.
     Konsep mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar yang di cetuskan oleh Rasulullah SAW di Madinah adalah merupakan sarana ampuh untuk menyatukan umat Islam di sana. Konsep ini pun belakangan juga digunakan dalam revolusi Perancis dengan semboyan “ Liberte, egalite, fraternite” (“kebebasan, kesetaraan, persaudaraan”).
     Setelah diangkat menjadi pemimpin, Rasulullah SAW juga mengembangkan kerjasama dan toleransi  antar penduduk yang tinggal di Madinah, yang antara lain terdiri dari kaum Muhajirn, kaum Anshar, suku Khazraj, suku Auz, Yahudi) sehingga terjalin kerukunan dan persatuan. Prinsip kerjasama dan toleransi tersebut dituangkan dlam deklarasi Piagam Madinah.
     Kepemimpinan Rasulullah SAW tidak diskriminatif terhadap kaum minoritas (kafir zimmi). Setiap warga negara  memiliki kesetaraan dalam hak dan kewajiban tanpa memperhatikan Islam atau non Islam, masyarakat arab atau non arab, Pendatang atau pribumi.
     Dalam rangka memperkuat posisi Madinah sebagai negara yang masih belum lama berdiri dan menjaga keamanan warganya dari gangguan suku quraisy, Rasulullah tidak selalu mengambil keputusan berperang, namun menempuh jalur diplomatik. Rasulullah SAW adalah seorang yang pandai dalam berdiplomasi. Sehingga muncul Perjanjian Hudaibiyah yang seakan-akan isinya menguntungkan kaum quraisy, namun kenyataannya adalah sebaliknya yaitu kemenangan berpihak pada Rasulullah SAW. Kemenagna yang dimaksud adalah:
a.       Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, berarti kaum Quraisy telah membuat pengakuan bahwa Rasulullah SAW adalah pemimpin bagi umat Islam dan warga Madinah. Mereka juga mengakui bahwa kekuatan politik Rasulullah SAW seimbang dengan kekuatan politik mereka.
b.      Dalam perjanjian tersebut kaum Quraisy memperbolehkan kaum muslim dan warga Madinah memasuki kota Mekah dan berziarah ke Ka’bah untuk berhaji atau berumrah. Secara tidak langsung mereka telah mengakui bahwa Islam adalah bagian dari agama-agama yang diakui di Jazirah Arab sehingga memiliki hak yang sama atas Ka’bah.
c.       Umat Islam menjadi lebih tenang dalam beraktivitas dagang dan pengembangan wilayah tanpa ada gangguan dari kaum Quraisy.
d.      Sesuai dengan isi perjanjian, anggota masyarakat Quraisy yang ingin bergabung dengan Madinah dikembalikan oleh Rasulullah SAW. Akhirnya mereka memilih untuk membuat kelompok-kelompok sendiri di luar Madinah dan mengganggu kafilah-kafilah dagang Quraisy  sehingga perekonomian Quraisy menjadi terganggu dan melemah. Sedangkan dari pihak Rasulullah SAW tidak ada anggotanya yang ingin bergabung dengan Quraisy melainkan mereka yang imannya sanagt lemah dan tidak loyal dengan pimpinan.
     Mengingat begitu hebatnya ajaran Islam dalam mengatur umat manusia untuk mencapai puncak kejayaan dan peradaban seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan praktisnya, maka sudah sepantasnyalah bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam harus kembali kepada petunjuk yang sebenarnya itu dalam rangka menyiapkan generasi muda dan para pemimpin masa depan yang berkarakter melalui gerakan perubahan sosial dan pendidikan. Bangsa ini harus memiliki kesungguhan dalam meneladani sikap, perilaku dan kebijakan Rasulullah SAW dalam berbagai aspek kehidupan.
     Sebagai umat islam tentu harus memiliki kepercayaan jika ajaran Al-Qur’an dan sunnah rasulullah SAW bahkan dalam pendidikan karakter adalah merupakan konsep paripurna. Konsep ini yang akan senantiasa relevan sampai akhir zaman. Fazlurrahman (dalam Amal: 1993) mengatakan : “ tanpa kepercayaan yang amat penting ini, tak satupun bahkan yang menjadi muslim nominal”.

KESIMPULAN

            Rasulullah SAW adalah pribadi yang amat mulia. Kemuliaan karakter yang beliau miliki telah terbukti menghantarkan beliau mencapai berbagai macam kesuksesan, baik dalam bidang ekonomi, parenting, politik mupun pemerintahan.  Kesuksesan beliau tidak hanya diakui oleh para sahabat pada waktu itu, bahkan hingga sekarangpun dunia masih mengakui kesuksesan beliau.
            Bangsa Indonesia sudah saatnya untuk bangkit dan melakukan sebuah perubahan, yaitu dengan memperbaiki karakter bangsa yang sudah carut marut seperti sekarang ini. Ketaladanan dari karakter Rasulullah SAW harus tercermin dari setiap sikap dan perilaku para pemimpin bangsa jika menginginkan bangsa ini bangkit dari keterpurukan.
            Generasi muda pun perlu dipersiapkan dengan pendidikan yang tepat agar menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang memiliki karakter mulia sebagaimana yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Dengan demikian tidak ada hal yang mustahil bahwa Indonesia masa depan akan menjadi bangsa yang mandiri, tangguh, adil, makmur, sejahtera, memiliki kekuatan politik di mata dunia, dan menjunjung tinggi kemuliaan peradaban.

DAFTAR PUSTAKA
Antonio, M.Ec., Dr. Muhammmad Syafi’i,  2007, MUHAMMAD SAW THE SUPER LEADER SUPER MANAJER , Jakarta, Tazkia Multimedia & ProLM Centre
Rais, Dr. Mohammad Amin, 2008, AGENDA MENDESAK BANGSA (SELAMATKAN INDONESIA) Yogyakarta, PPSK Press.
Amal, Taufiq Adnan, 1993, ISLAM DAN TANTANGAN MODERNITAS, Bandung, Mizan.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar